Sabtu, 08 Oktober 2011

Cerpen

LUNDO SI KUCING TETANGGA
Oleh: Muhammad Rain


“Mau apa mama?” Adik bertanya pada mamanya.
Si Lundo sedang tidur dibalut selimut, kucing tetangga kami yang paling sering membasmi tikus di komplek perumahan ini begitu pulas meringkuk hangat di bawah kursi beranda. Beberapa malam sudah Lundo ngeronda, tikus banyak sudah yang mati diterkam Lundo. Lundo pahlawan lorong sini.
“Ini nak, sepiring nasi buat Lundo ini kamu letakkan dekat dia tidur ya!”. Adik mengiyakan dan dengan senang hati memenuhi permintaan mama.
Mama rupanya menyiapkan hadiah lagi buat Lundo. Lundo si jago memberantas musuh kami. Tikus-tikus itu harus diberi pelajaran agar tidak sesuka nafsunya melahap apa saja di rumah kami. Banyak sudah korban lahapan tikus. Di antaranya uang simpanan mama di laci lemari, puluhan lembar uang seratus ribu mama rusak digigit dan sobek parah oleh perbuatan tikus-tikus tanah itu. Buku-buku pelajaran adik banyak pula yang terburai, bolong dan kotor akibat dijadikan sebagai sarang para tikus itu.

Lundo merespon langsung kehadiran tulang-tulang ikan di atas sepiring nasi yang telah disuguhkan adik. Adik menatap Lundo makan begitu lahapnya. Sesekali adik mengelus pungguk dan kepala Lundo. Lundo melahap saja tak perduli. Adik menyuguhkan susu dari setengah gelas sisa sarapan paginya. Susu yang sengaja disisakan adik tersebutpun dalam waktu tak lama lenyap diminum Lundo. Si kucing tetangga itu amat kelelahan dan lapar barangkali? Betapa tidak, semalaman bekerja memenuhi tugas utamanya di dunia sebagai kucing yang wajib membasmi tikus. Tikus makin ramai saja tapi.

Adik membeberkan kisah Lundo pada beberapa temannya. Begitu semangatnya ia bercerita, seolah Lundo adalah pahlawan sekelas superman atau spiderman. Yach meskipun Lundo bukan makhluk super, tetapi keberanian sang kucing tetangga itu dalam membasmi kejahatan para tikus patut dijadikan teladan. Itulah yang membuat adik senantiasa mengulang-ngulang kisah Lundo dari satu teman ke teman yang lain, walhasil sang kucing yang bernama Lundo itu telah dianggap menjadi pahlawan oleh hampir seluruh isi teman sekelas adik. Lundo telah menjadi anutan bahwa membasmi kejahatan adalah hal baik lagi dianjurkan, terutama agar kehidupan di rumah menjadi tenang dan aman. Terjauh dari petaka serangan hama jahat yang bahkan jika dibiarkan akan semakin menjadi-jadi.

Di musim hujan begini, Lundo makin gesit saja bekerja ketika malam tiba. Para tikus tak mau anak-anak mereka mati kelaparan dan tergenang air tanah yang mulai melembabkan hunian mereka yang hangat sebelum musim hujan datang. Akibat perubahan cuaca, para tikus sibuk mengungsi dengan mencari wilayah baru yang lebih menjamin kesejahteraan hidup mereka. Beberapa rombongan tikus ada yang menginap di lemari gudang rumah kami. Nah di sinilah tempat ronda Lundo paling favorit.

Kami sendiri tidak memiliki kucing peliharaan. Dulu memang ada dibawa pulang ayah dari pasar. Kami memberi nama kucing pemberian ayah sebagai Lundo Junior. Tapi malang nasib si kucing yang kelihatannya dari turunan lemah dan manja itu. Lundo Junior mati akibat bergelut dengan kucing tetangga kami yang lain. Lundo Senior tak bisa menolongnya, saat itu ia sedang terpulas tidur, kelelahan akibat ronda rutin.

Lundo si kucing tetangga memang hebat, Pak Burhan pemiliknya mengandalkan ia untuk menjaga rumah ketika pekerjaan di luar kota menuntut Pak Burhan harus sering meninggalkan rumah. Sisa-sisa makanan dari restoran mewah sering sekali menjadi oleh-oleh buat si Lundo. Dasar Lundo yang selain rajin membantai tikus rupanya ia doyan makan. Akibatnya Lundo menjadi makin gemuk akibat kebanyakan makan. Akhir-akhir ini kinerja Lundo menurun. Papa menjadi lebih repot jadinya, biasanya saat malam larut, papa hanya memantau sejenak ke dapur, ke lemari gudang dan ke bagian-bagian tertentu rumah kami yang sering menjadi sarang para tikus. Papa menjadi kurang tidur, badannya sakit-sakitan akibat masuk angin dan kurang istirahat. Seminggu ini serangan tikus di tengah rasa malas yang makin menjadi-jadi pada Lundo membuat kompleks kami terancam kembali oleh tingkah laku tikus-tikus yang makin ganas dan kejam.

Lundo sepertinya minta pensiun. Pak Burhan mengamuk dan memukul Lundo akibat terkejut melihat seisi lemari berisi berkas-berkas penting pekerjaan kantornya hancur berantakan dibantai tikus-tikus yang selama ini takut pada Lundo. Mereka balas dendam terhadap rumah hunian Lundo. Selama ini di rumah itu, anak-anak para tikus sering tewas dan banyak yang celaka dan pincang. Para tikus mengambil kesempatan saat malam larut dan seharusnya Lundo bekerja menjaga rumah malah pulas mendengkur. Lundo menjadi ompong dan letoy. Ia yang selama ini menjadi pahlawan para tetangga tak mampu lagi menunjukkan kinerja pengawalan lingkungan di seputar perumahan ini secara maksimal. Riwayat kepahlawanan Lundo sudah habis. Adik menjadi sedih dan mulai kehilangan bahan pembicaraan. Jika ada teman-teman sekelasnya yang bertanya tentang kabar si Lundo, adik berusaha mengalihkan pembicaraan, misalnya dengan bertanya tugas-tugas sekolah dan lebih sering menghindari pembicaraan dengan tema Lundo si kucing tetangga yang selama ini malah menjadi deadline dan berita utama yang membumbui kata-kata adik saat bergaul di kantin dan saat bermain di rumah tetangga.


Lundo ditemukan mati nyemplung parit besar di seberang persimpangan komplek perumahan kami. Ia telah memutuskan mengakhiri kisahnya dengan memilih mati. Mungkin rasa pedih akibat siksaan Pak Burhan membuat ia makin jarang pulang. Lalu ia memilih pergi dari rumah itu dengan tujuan menghindari siksaan tuannya yang selama ini sangat menyayanginya, memanjakannya dan bahkan membangga-banggakan dia. Adik melihat Lundo menyeberang jalan, saat itu kendaraan sedang ramai-ramainya melintas di perempatan komplek perumahan kami. Lundo digiling truk pasir yang sulit menghindar saat Lundo menyeberang, akibat beban berat muatan pasir di bak truk itu. Lundo mati mengenaskan. Adik hanya diam dan seketika itu tak tega melihat tubuh Lundo hancur terburai. Dengan sisa keberanian dan kesedihannya, adik mengangkat sisa-sisa tubuh Lundo dan menyemplungkannya ke parit besar di perempatan rumah kami. Biarlah Lundo menjadi kenangan baik saja bagi seluruh yang mengenalnya. Sedang kematian yang mengenaskan cukuplah adik yang tahu. Siang itu adik mulai malas makan.


Langsa-Indonesia. 4 Oktober 2011

1 komentar:

  1. Cerita yang bagus. Banyak yang dapat dipetik hikmah dari cerita Kak Muhrain.

    BalasHapus