Sabtu, 13 Agustus 2011

Dita




Kolom
Buah Hati
 
Dita 

Oleh : Kak Novianti
Pagi yang cerah! Hari ini  hari pertama liburan semester.  Dita sudah mempunyai janji dengan kedua temannya Rizka dan Noni untuk mengisi hari pertama liburan ini dengan bersepeda menuju pantai pemandian, sebuah lokasi wisata yang hanya berjarak tujuh kilometer dari tempat tinggal tiga sekawan ini. Wah..berbagai persiapan sudah dilakukan  Mulai dari memastikan kondisi sepeda, mempersiapkan bekal yang akan dibawa. Bahkan agar kelihatan matching ketiga gadis kecil yang baru saja naik kelas VI SD ini berjanji akan memakai baju dengan warna yang sama. Merah! Itulah warna yang telah disepakati. “Supaya terlihat cerah, secerah hati kita”, begitu kata Noni.
          Sebenarnya ada perasaan berat di hati Dita dengan pilihan warna itu. Dita membayangkan alangkah kontrasnya warna merah baju itu dengan warna kulitnya yang hitam. Dibayangkannya pula bagaimana senyuman menggoda Kak Andy, kakak lelakinya yang sering memanggilnya dengan sebutan ‘blacksweet’ Akan tetapi demi menjaga kekompakan Dita tidak berkata apa-apa.
          Sedari tadi lepas sholat subuh Dita sudah berdiri di depan cermin memutar badannya ke kanan dan ke kiri  dengan baju merah, satu-satunya yang ia miliki. Ahh...kenapa sih warna kulit ini harus seperti ini, gak seputih Rizka atau Noni? Gerutu hati Dita Berulang-ulang. Tiba-tiba timbul rasa putus asa dalam dirinya. Sampai-sampai ada rasa penyesalan kenapa harus kulit ayah yang diwarisinya. Tidak seperti Kak Andy dan Kak Dini yang mewarisi kulit bunda, kuning langsat. Pernah juga hal ini ditanyakannya pada bunda, tapi pada waktu itu bunda cuma tersenyum sambil membelai kepalanya. “Dita tidak hanya mewarisi kulit ayah kok, tapi kepintaran ayah juga, Dita anak ayah dan bunda yang paling manis dan pintar.” Begitu dulu Bunda menghiburnya.
          “Dit..Dita..” panggilan Bunda dari arah ruang makan membuyarkan lamunannya. “Ayo makan, katanya mau pergi pagi-pagi sekali, nanti terlambat”, lanjut Bunda. Dita pun keluar dari kamarnya dengan langkah ragu-ragu. Apalagi Kak Andy sudah duduk di meja makan, uh! Pasti deh dia akan senyum-senyum mengejek.
          “Nda, Dita gak jadi  ah, pergi sama Rizka dan Noni”, suara Dita terbata-bata.
          “Lho…!?” Serentak bunda, dan kak Andy mengangkat kepalanya.
          “Yah sudahlah, yang penting Dita makan dulu, nanti itu dibicarakan”, jawab kak Andy.
          Selesai makan kak Andy segera mengajak Dita duduk-duduk di ruang tamu. Kak Andy yang biasanya suka menggoda, kini menunjukkan wajah serius.
“Dita, ayo duduk sebentar, kakak mau bicara”. Heran, biasanya mulut kak Andy yang paling bawel menggodanya. Kini ia tak melakukan itu. Wajahnya juga biasa-biasa saja, bahkan seolah tak memerhatikan baju yang dipakai Dita. “Kakak tahu pasti Dita tidak mau ikut karena baju itu kan?” Kak Andy memulai pembicaraan.
“Ah, Kakak! Gitukan? Kakak pasti ngejek!” Dita kelihatan sewot. Tapi dalam hatinya berkata, mengapa kak Andy ngomongnya serius?
“Dit, kakak tidak ngejek Dita. Kakak malah sayang sekali sama Dita. Eh, dengar ya! Tahu tidak, orang yang memiliki kulit lebih gelap, sebenarnya lebih beruntung daripada yang memiliki warna kulit terang?”
“Tuh,  kan? Kakak ngejek lagi!?” Dita sewot lagi.
“Lho, gak lah! Kakak tidak ngejek Dita. Coba dengar dulu kakak, ini Kakakmu si ahli Biologi dengan nilai kuliah paling hebat!” Kak Andi sedikit membusung dada. Dita senyum di balik bibirnya melihat gaya kak Andy, kakaknya yang sebenarnya sangat  ia sayangi ini. “Begini, menurut yang kakak pelajari, orang yang memiliki kulit gelap tidak mudah terkena kanker kulit. Mau tahu kenapa?” Dita hanya menjawab pertanyaan kak Andy dengan kerutan di keningnya. “Warna hitam pada kulit itu merupakan sel melanin yang bekerja aktif di bawah kulit, berkumpul untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Kita tahu, sinar matahari itu mengandung ultraviolet yang sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan kanker kulit. Jadi gak usah sedih dan rendah diri kalau punya kulit gelap, justru itu bukti Allah punya kasih sayang lebih pada Dita.” Kak Andy melanjutkan.
Dita tersipu-sipu malu mendengar penjelasan kak Andy yang sambil menggodanya itu. “Lalu kalau begitu, orang yang kulitnya terang kayak Kakak dan Kak Dini  tandanya tak seberapa disayang Allah donk?” tanya Dita balik menggoda kakaknya. 
“Yah, gak gitu juga sih, Allah itu Maha Adil dalam kasih sayangNya. Orang yang kulitnya lebih terang punya kelebihan pula, karena kemampuan menyerap lebih banyak sinar matahari, maka vitamin D bisa terbentuk dengan baik. Lagipula Dita tahu enggak kalau Allah menciptakan segala sesuatunya itu pasti ada manfaatnya? Kenapa harus ada orang yang kulitnya gelap dan ada yang terang? Itu supaya kita semua bisa saling mengenal, dan saling menghargai. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Seperti Dita, biarpun hitam, tapi manis dan sehat kaaan?”
“Ih..kakak mulai lagi kan. Dita mencubit manja tangan kakaknya. Hatinya kini yakin bahwa ia tak perlu rendah diri dengan apa yang dimilikinya. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya kok! Sebuah perjalanan bersepeda yang menyenangkan bersama Rizka dan Noni pun membayang di kepalanya. Mereka pasti sudah menunggunya.


Ingat ya adik-adik !
Semua anugerah yang diberikan kepada kita adalah bukti sifat Maha Rahman dan Rahim Allah SWT. Semua itu harus kita syukuri

Wassallam, sekian dulu ya!










===========================================================
Tentang Penulis

Kak Novianti adalah seorang penulis cerita pendek dan cerita anak. Beberapa bukunya yang sudah terbit antara lain antologi Purnama di Atas Kapuas (Depdiknas, Jakarta, 2003), Denting (DKM, Medan 2006, Proyek (Depdiknas, Jakarta, 2008), Penyesalan Otan (Depdiknas, Jakarta, 2009). Selain itu juga menulis di harian Waspada dan Analisa Medan. Saat ini aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA 2 Binjai dan Dosen STKIP Budidaya Binjai, Sumatera Utara, Indonesia sekaligus mengasuh Komunitas Membaca, Menulis, dan Sastra Rumput Hijau. Email yang bisa dihubungi: novianursha@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar